HomeBudayaFestival Wale Ma’zani 2026 Perkuat Pelestarian Bahasa, Kolintang, dan Budaya Minahasa

Festival Wale Ma’zani 2026 Perkuat Pelestarian Bahasa, Kolintang, dan Budaya Minahasa

Kabar Morowali — Upaya menjaga kebudayaan lokal di tengah perubahan zaman terus menjadi perhatian berbagai komunitas budaya di Sulawesi Utara. Arus modernisasi, penggunaan teknologi digital, hingga semakin berkurangnya penutur bahasa daerah di kalangan generasi muda menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan identitas budaya Minahasa.

Berangkat dari keprihatinan itu, Rumah Budaya Nusantara atau RBN Wale Ma’zani kembali menggelar Festival Wale Ma’zani 2026. Festival ini dirancang bukan sekadar sebagai panggung pertunjukan seni, tetapi juga sebagai ruang belajar, ruang perjumpaan, dan ruang kolaborasi untuk merawat kebudayaan Minahasa agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Festival yang mendapat dukungan melalui Dana Abadi Kebudayaan tersebut menghadirkan rangkaian kegiatan yang menyentuh berbagai aspek kebudayaan. Mulai dari pelestarian bahasa lokal, penguatan pengetahuan tradisional, pendidikan budaya, hingga pengembangan musik kolintang sebagai salah satu identitas seni masyarakat Minahasa.

Rangkaian Festival Wale Ma’zani 2026 telah dimulai dengan Lokakarya Bahan Ajar Bahasa Lokal Tombulu pada 4–5 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat keberadaan bahasa daerah yang kini menghadapi tantangan regenerasi penutur. Melalui lokakarya tersebut, bahasa Tombulu tidak hanya ditempatkan sebagai warisan lisan, tetapi juga sebagai materi pembelajaran yang dapat dikenalkan secara lebih sistematis kepada generasi muda.

Setelah lokakarya, festival berlanjut dengan sejumlah agenda lain. Di antaranya Podcast Budaya pada 11 Juni, Sosialisasi Bahan Ajar Bahasa Lokal Tombulu pada 18 Juni, serta Pelatihan Teknologi Tradisional pada 19 Juni 2026. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui pendidikan, dokumentasi, dan transfer pengetahuan.

Selain bahasa, musik tradisional juga mendapat tempat penting dalam festival ini. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Kolintang Grand Prix yang digelar pada 18–19 Juni 2026. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang ekspresi bagi musisi, pelatih, dan pegiat seni kolintang untuk menampilkan kreativitas mereka.

Kolintang sebagai musik tradisional Minahasa telah dikenal luas, bahkan hingga tingkat internasional. Karena itu, penyelenggaraan kompetisi ini tidak hanya bertujuan melestarikan seni musik, tetapi juga memperkuat posisi kolintang sebagai bagian penting dari identitas budaya Sulawesi Utara.

Bagi penyelenggara, kebudayaan bukan hanya peninggalan masa lalu yang harus dijaga, melainkan juga sumber daya sosial yang dapat mendorong perkembangan pendidikan, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Dengan demikian, festival budaya diharapkan dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Puncak Festival Wale Ma’zani 2026 akan digelar pada 20 Juni melalui Konser Dentang Ma’zani dan Malam Anugerah. Acara ini tidak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga bentuk penghargaan kepada para pelaku budaya yang selama ini berperan menjaga dan mengembangkan tradisi Minahasa.

Festival Wale Ma’zani 2026 turut didukung oleh Persatuan Insan Kolintang Indonesia dan Ikatan Pelatih Kolintang Indonesia. Melalui kolaborasi tersebut, penyelenggara berharap kebudayaan Minahasa tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus berkembang sebagai identitas hidup masyarakat Sulawesi Utara di masa depan.

Sumber: Manado Post

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments