HomeBudayaFestival Uta Dada Dorong Penguatan Identitas Budaya dan Wisata Kuliner Sigi

Festival Uta Dada Dorong Penguatan Identitas Budaya dan Wisata Kuliner Sigi

Kabar Morowali – Festival Uta Dada di Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, tidak hanya menjadi ruang perayaan kuliner tradisional. Lebih dari itu, festival ini dipandang sebagai bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya, merawat sejarah lokal, sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat berbasis kearifan daerah.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menilai Festival Uta Dada memiliki nilai strategis dalam penguatan budaya lokal. Kuliner khas tersebut tidak hanya hadir sebagai sajian makanan, tetapi juga menyimpan cerita, tradisi, dan memori kolektif masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Staf Ahli Gubernur Bidang Sumber Daya Manusia dan Pengembangan Kawasan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Rosmiadi, mengatakan Festival Uta Dada merupakan bentuk nyata pelestarian budaya lokal. Kegiatan ini juga dinilai sejalan dengan program Berani Harmoni, yang menempatkan nilai-nilai budaya daerah sebagai fondasi penting dalam pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Menurut Rosmiadi, pariwisata daerah tidak dapat berkembang hanya dengan mengandalkan keindahan alam atau infrastruktur. Identitas budaya harus menjadi bagian utama yang memberi warna dan daya tarik bagi sebuah destinasi.

“Budaya lokal adalah fondasi utama pariwisata agar tidak kehilangan identitas dan daya tariknya. Karena itu, kuliner tradisional harus terus dijaga, dikembangkan, dan dipromosikan sebagai bagian dari kebanggaan daerah,” kata Rosmiadi saat ditemui di Kinovaro, Selasa.

Ia menjelaskan, Festival Uta Dada juga memiliki potensi besar untuk mendorong tumbuhnya pelaku usaha baru, terutama dari kalangan generasi muda. Melalui festival ini, anak-anak muda di Kabupaten Sigi diharapkan semakin tertarik mengembangkan usaha kuliner tradisional dengan kemasan yang lebih kreatif, tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Rosmiadi menilai, Uta Dada dapat menjadi salah satu ikon kuliner khas Sulawesi Tengah yang mampu menarik minat wisatawan. Jika dikelola secara berkelanjutan, festival ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sigi ke tingkat yang lebih luas.

“Melalui festival ini, ke depan kita berharap kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sigi meningkat. Selain itu, masyarakat juga semakin bangga terhadap warisan budaya leluhur,” ujarnya.

Ia menambahkan, Festival Uta Dada mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat. Kuliner tradisional tersebut bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga simbol hubungan sosial, gotong royong, dan kekuatan ekonomi kreatif yang tumbuh dari desa. Karena itu, festival semacam ini perlu terus diperkuat sebagai agenda pelestarian budaya sekaligus promosi wisata daerah.

“Ini harus menjadi momentum pelestarian kuliner tradisional dan promosi potensi wisata daerah hingga ke tingkat nasional,” ucap Rosmiadi.

Sementara itu, Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan festival budaya dan kuliner sebagai salah satu instrumen pengembangan pariwisata. Menurutnya, setiap wilayah di Kabupaten Sigi memiliki kekhasan masing-masing, baik dalam bentuk tradisi, seni, maupun makanan lokal.

Rizal mengatakan, potensi tersebut harus digali dan dipromosikan secara serius agar mampu menjadi kekuatan baru dalam pembangunan daerah. Festival budaya tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam membuka peluang ekonomi dan memperkuat kebanggaan terhadap identitas lokal.

“Setiap kecamatan di Kabupaten Sigi memiliki kekhasan budaya dan kuliner yang berbeda-beda. Semua potensi itu harus digali dan dipromosikan karena dapat menjadi kekuatan baru dalam pengembangan pariwisata daerah di masa mendatang,” kata Rizal.

Ia memastikan setiap wilayah di Sigi didorong untuk menyelenggarakan festival sesuai karakter dan potensi lokal masing-masing. Beberapa agenda yang disebutkan antara lain Festival Budaya To Marawola, Festival Nokilalaki, Festival Danau Lindu, hingga Festival Ikan Mujair di Kecamatan Dolo.

Bagi Rizal, Festival Uta Dada menjadi contoh bagaimana kuliner tradisional dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Ia menegaskan bahwa Uta Dada tidak boleh dilihat semata-mata sebagai makanan, tetapi sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan sosial.

“Uta Dada bukan hanya makanan, melainkan warisan budaya yang harus dipertahankan dan dikembangkan agar menjadi destinasi wisata kuliner yang mampu menarik kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sigi,” ujarnya.

Festival Uta Dada juga telah memperoleh Sertifikat Komunal Kekayaan Intelektual dari Kementerian Hukum Sulawesi Tengah serta label halal untuk produk lokal Kabupaten Sigi. Pengakuan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Uta Dada sebagai warisan budaya kuliner yang memiliki nilai identitas, legalitas, dan potensi ekonomi bagi masyarakat Sigi.

Sumber: Antara

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments